Perayaan Galungan bagi umat Hindudi Bali sudah sangat
memasyarakat dari abad keabad. Tetapi sangat kita sayangkan memasyarakatnya
Galungan tersebut sangat tidak seimbang antara Tattwa atau kasuksman
Galungan,Susila dengan Upakaranya.
Artinya antara Tattwa yang tercamtum dalam teks pustaka
Sundaraigama dengan wujud susila dan upakara Galungan dalam kehidupan
empirisnya sampai saat ini masih tidak nyambung. Bahkan kadang-kadang
bertentangan.antara Tattwa Galungan yang demikian luhur dan idial
dinyatkan dalam teks Pustakanya dengan kenyataan perayaan Galungan
dalamkehidupan empiris setiap dalam kehidupan empiris setiap perayaan Galungan
yang dirayakan setiap enam bulan wuku (210 hari).
Ada kalanya disuatu waktu dan tempat perayaan Galungan lebih
menonjolkan perayaan Galungan dengan pesta-pesta pora yang bersifat
hedonis. Makan masakan khas daerah yang lebih nikmat dari
sehari-harinya.Demikian pula Galungan diwujudkan dengan berpakaian serba
baru,pergi ketempat-tempat hiburan dan melakukan hal-hal yang lebih menekankan
keikmatan indria. Pada hal Galungan adalah sebagai suatu peringatan untuk
menajamkan daya spiritual untuk mensinergikan penerapan Jnyana atau ilmu
pengetahuan suci untuk mencerahkan hati nurani umat sehingga dapat membangun
kehidupan yang cerah dan bergaiarah untuk mengamalkan Dharma. Galungan bukan
sebagai media untuk lebih mendinamisir dominasi indria dalam diri. Sesungguhnya
untuk mengimplementasikan Tattwa Galungan banyak hal yang dapat kita perbuat
dengan mengembangkan Tattwa Galungan kedalam berbagai program nyata sehingga
Tattwa Galungan menjadi nyata dalam wujud susila dan upakara nya Inilah tujuan
utama penulisan tentang Galungan dan Kuningan dalam tulisan singkat ini.
Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau
bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti
menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan,
sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya
berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara
ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama : manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya
Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah
lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas
Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama
dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu popular dirayakan di
Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama
Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di
luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan
pasti.
Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana
Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha
Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu
disebutkan:
Punang
act Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804.
Bangun indria Buwana ikang Bali rajya,
Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu
Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau
Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah.
Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah
apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu
dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan.
Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri
Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti.
Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri
Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali,
setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa
dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa
Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja
sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri
Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan
istilahDewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan
di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan
tapa brata. Raja Sri Jayakasunu mendapatkanpawisik atau“bisikan religius” dari
Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan
kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendekkarena tidak lagi merayakan Galungan.
Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali
merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang
pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu
memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).
Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah
melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan
negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri
Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan
hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar
mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari
budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan
karaksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus
disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki
kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia
secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk
menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan
rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan
dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep
Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya
mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan
pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah
wujuddharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning
idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan
kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan
adharma.
Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum
dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan
Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna
menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia.
Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang,
enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari
Sugihan Jawa itu merupakan “Pasucian dewa kalinggania pamrastista
batara kabeh” (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua
bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat
dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat
Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan
(Olehkarenanya menyucikan badan jasmani masing-masing).
Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata
Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan
itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun
mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung
Jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha
Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya
selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari
ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar
disebutkan, “Pangastawaningsang ngamongyoga samadhi.”
Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan
Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha
Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut
pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi
sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini
hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari
raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis
Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma.
Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat
hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil
bergembira-ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut
hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke
sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaituhidup sehat panjang
umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta
gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan.
Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan.
Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena
malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya,
Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sunarigama disebutkan, upacara
menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan
hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah
hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah
maring Swarga).
Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut
pelaksanaan upacaranya.
3. Macam-macam
Galungan
Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua
umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan
sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke
abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada
embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah
sebagai berikut:
a. Galungan
Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan
kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama
disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu
dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap
210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta
Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya
Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.
b. Galungan
Nadi
Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar
Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih
Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada
bulan Oktober.
Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama
itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada
waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara
dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa
kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka
akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotoninatau upacara
hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka
melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah.
Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang
diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang
(lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang
bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini
datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.
c. Galungan
Nara Mangsa
Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih
Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:
"Yan
Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek
9, Galungan Nara Mangsa ngaran. “
Artinya:
Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungarniya dan bila
bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.
Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang
hampir sama sebagai berikut:
Nihan
Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan
tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan
wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yon mengkana. Tan kawasa
mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal
kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline
pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring
Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah.
Artinya:
Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (liari buruk)
bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan
dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan
Galungan, Kala Rau namanya, bi]a demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen
yang berjsi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9
sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya.
Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan
dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam
(maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan
tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada
hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya,
Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu
adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari
Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya
terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. PadaGalungan Nara
Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur
keladi.
Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali
biasanya diiiustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar
dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan
adharma.
Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma
dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak
percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.
Galungan di India agak berbeda dengan pelaksanaan Galungan di
Indonesia, namun pada intinya sama. Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat
atas pertarunganantara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu
di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia
mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di
India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim
dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.
Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula
“Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari
seperti Galungan dan Kuningan.
Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di
sana melakukan upacara yang disebutNawa Ratri (artinya sembilan
malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang
sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih
menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Nawa
Ratri itu dilakukan dengan mumuja Dewi Durgha selama tiga hari. Tiga hari
berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga hari terakhir memuja Dewi Laksmi.
Tiga hari memuja Dewi Durgha bertujuan untuk membangun niat baik dalam hati
nurani.Membangun niat baik inilah pekerjaan yang paling sulit. Tiga hari memuja
Dewi Saraswati artinya untuk meningkatkan kemampuan kita menguasai ilmu
pengetahuan. Niat baik saja tidak cukup.Niat baik itu hartus disertai dengan
kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk menuntun hidup manusia. Tiga
hari terakhir memuja Dewi Laksmi.Ini artinya puncak dari perjuangan membangun
niat baik dan menguasai ilmu pengetahuan adalah hidup sejahtra lahir
batin. Niat baik dan ilmu pengetahuan itu tidak ada apa-apanya kalau tidak
menghasilkan hidup sejahtra lahir batin. Pemujaan pada dewi Laksmi ini
bertujuan agar niat baik dan ilmu pengetahuan itu benar-benar diarahkan untuk
mewujudkan hidup sejahtra Sekala dan Niskala. Untuk membangun hidup sejahtra
itu tidak mudah,karena itu hartus dilakukan upaya spiritual dengan memuja Tuhan
sebagai Dewi Laksmi pada tiga hari terakhir dari Nawa Ratri tersebut.
Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami
lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat
luas.
Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun
Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka
(April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa
Ratri.
Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma
melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha)
mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu
raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi
Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik
menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti.
Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang
tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya.
Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang
berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.
Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih
kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang
paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia
Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang
paling ampuh melawan adharma.
Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober)
disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama
sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan
yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani
dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat
merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota
menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan.
Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna
atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai.
Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang
terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Hanuman.
Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama
melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah
Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun
bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi
Sita, Laksmana dan Hanuman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat
Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan
panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.
Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua
kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika)
adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih
sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat
untukmengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan
ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman
atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan fllosofi dari hari
raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan.
Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh
menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya
kehidupan yang bahagia lahir batin.
Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah
suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat
kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan
oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon
Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan
spiritual.